Oleh: sanginspirasi | 12 September 2011

Siswa Berkarakter

Oleh Prof., Dr.Irwan Prayitno, Psi, MSc.

 

Suatu hari, seorang guru agama di sebuah sekolah melaksanakan tugasnya dengan penuh dedikasi dan semangat yang cukup tinggi.

“Siswaku sekalian, hari ini kita akan membahas dan mempelajari Rukun Islam,” ujarnya mengawali pelajaran. Lalu beliau menerangkan apa yang dimaksud dengan Rukun Islam. Usai menerangkan, sang guru bertanya.

“Anak-anak apakah kalian mengerti apa yang diterangkan tadi?” Tanya guru usai memaparkan materi pelajaran. Sejumlah murid terlihat diam sambil menganguk-angguk. Tapi sebagian lagi mengacungkan tangan sambil berujar, “belum Buk, kami belum mengerti,” ujar mereka. Lalu guru menerangkan sekali lagi, lebih pelan dan lebih rinci.

Setelah itu guru bertanya lagi. “Anak-anak, apakah sekarang kalian sudah mengerti?” Kali ini nampaknya para siswa tersebut telah cukup paham. “Sudah Buuuk….,” ujar mereka hampir serempak.

Guru kita ini tersenyum. Ia puas karena siswanya telah memahami apa yang ia ajarkan. “Baiklah anak-anak, minggu depan kita ujian,” ujarnya.

Seminggu kemudian, saat ujian dilaksanakan ternyata berlangsung lancar, nampaknya para siswa memang mengerti yang diterangkan gurunya. Tentu saja sebelumnya mereka telah berusaha keras menghafal materi yang telah diajarkan sebelumnya.

Guru pun telihat puas saat memeriksa hasil ujian para siswa, nilai mereka kebanyakan memperoleh angka 9 dan 10. “Alhamdulillah, saya telah selesai melaksanakan tugas mengajar, sesuai dengan kurikulum,” ujar sang guru dalam hati.

***

Tapi, benarkah ia telah tuntas mengajarkan pendidikan agama kepada siswanya? Nilai ujian siswa memang sangat memuaskan, rata-rata memperoleh angka 9. Tetapi apakah siswa telah melaksanakan shalat sesuai dengan yang dianjurkan Rukun Islam. Apakah mereka melaksanakan kewajiban berpuasa? Kenyataannya cukup banyak ditemui siswa yang sekadar hafal Rukun Islam, tapi nyaris tak pernah mengamalkannya.

Dalam kasus ini belajar-mengajar hanya sebatas proses kognitif, sedangkan proses afektif dan psikomotorik sering terlupakan, atau tak sempat dikawal guru. Akibatnya siswa hanya sekadar hafal isi mata pelajaran, tapi tidak diikuti perubahan sikap dan tingkah laku serta perbuatan. Mereka tak shalat atau puasa meski tahu, bahwa shalat dan puasa wajib hukumnya bagi umat Islam.

Berdasarkan pengalaman praktik mengelola lembaga pendidikan, kata kunci dari persoalan ini adalah pembiasaan. Siswa merasa enteng melakukan shalat dan puasa karena dilatih dan terbiasa melakukan shalat dan puasa. Siswa terbiasa hidup bersih dan beretika karena dididik untuk terbiasa menjaga kebersihan dan beretika dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan agama maupun etika, takkan bisa mengubah tingkah laku seseorang jika hanya bersifat hafalan (kognitif).

Hal inilah yang ingin diwujudkan dalam pendidikan berkarakter. Secara ringkas tujuan pendidikan berkarakter adalah menghasilkan “Siswa Cerdas dan Berakhlak Mulia.” Akhlak mulia bukan sekadar hafalan, tapi karakter. Pembiasaan, salah satu metode untuk membangun karater anak didik.

Karena itu dalam pelaksanaan pendidikan berkarakter biasanya dilakukan pola full day school atau boarding school. Pada pola boarding school, siswa belajar sampai sore. Pagi belajar sesuai dengan kurikulum biasa, sore belajar pengetahuan dan praktik agama. Shalat Zuhur dan Asyar dilakukan langsung secara berjamaah di sekolah. Dengan sistem boarding school (siswa tinggal di asrama) lebih banyak lagi waktu yang bisa manfaatkan untuk melatih kebiasaan yang posisif. Kebiasaan hidup bersih dan beretika dan anjuran agama lainnya dapat dilatih dan dibiasakan di asrama.

Dalam budaya Minang telah lama dikenal petitih sebagai berikut: ketek ta anja-anja, gadang tabao-bao, lah gaek tarubah tido. Maksudnya sikap dan karakter seseorang terbentuk dari kebiasaannya sejak kecil. Setelah ia dewasa, kebiasaan itu sulit untuk mengubahnya. Jika seseorang sejak kecil sudah terbiasa bicara kasar, sampai tua ia akan tetap demikian dan sulit mengbahnya. Begitu juga jika seseorang telah terbasa shalat sejak kecil, maka sampai tua ia akan terbiasa.

Di Sumatra Barat yang menganut falsafah adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah perpaduan materi kurikulum pendidikan umum dan pendidikan agama Islam merupakan pasangan yang sangat cocok. Namun tentu juga cocok dengan agama lain sesuai kepercayaan yang dianut peserta didik.

Pendidikan berkarakter bukan sekadar teori, tapi telah lama dipraktikkan di sejumlah sekolah di Sumbar. Di ITB misalnya, ada puluhan siwa asal Sumbar, yang diterima dan melakukan studi di sana. Ternyata tak hanya itu, mereka mendominasi sebagai aktivitis masjid Salman ITB. Begitu juga di UI, mereka mencuat sebagai aktivis masjid kampus UI. Mereka adalah lulusan sekolah yang menganut pola pendidikan berkarakter di Sumatra Barat. Insya Allah mereka adalah asset SDM Sumatra Barat masa depan. (*)

 

 

#sumber asli : http://www.irwanprayitno.info/artikel/1309246246-siswa-berkarakter.htm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: