Oleh: sanginspirasi | 18 Januari 2012

Potret Siswa SMK Kita

oleh : Fauzul Izmi

Keberhasilan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Solo dalam merakit mobil Esemka patut diberikan acungan jempol. Program yang diprakarsai oleh Mendikbud Mohammad Nuh ini telah menimbulkan decak kagum berbagai kalangan. Rencananya produk tersebut mau dipatenkan karena dinilai berhasil. Hal ini menjadi bukti bahwa siswa SMK tidak selalu identik dengan tawuran dan perkelahian. Mereka berhasil menepis anggapan orang selama ini. Prestasi yang membanggakan tersebut tak lepas juga dari peran Walikota Solo, Jokowi yang telah mempromosikan mobil Esemka sehingga dapat diketahui oleh banyak pihak. Diharapkan terobosan ini menjadi stimulus bagi siswa-siswa SMK lainnya di Indonesia. Termasuk SMK-SMK di kota Padang. Mungkin kita bisa melahirkan produk yang tidak kalah bagusnya dengan mereka. Tentu  dengan tetap memperhatikan lokalitas daerah. Selalu ada jalan untuk meraih itu semua asalkan kita terus berikhtiar dan berdoa.

SMK sebagai lembaga pendidikan diharapkan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang mampu bersaing di dunia global. Bukan dengan cara melakukan perbuatan negatif yang hanya merugikan diri sendiri, orang lain dan tentu saja nama baik almamater SMK itu sendiri. Siswa SMK punya keunggulan tersendiri daripada siswa SMA. Mereka dipersiapkan untuk terjun ke lapangan pekerjaan setelah selesai nanti. Artinya selama di sekolah mereka dibekali dengan keahlian-keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh siswa SMA.

Namun,ironis jika kita bandingkan dengan potret siswa SMK di kota ini. Entah sudah berapa kali terjadi tawuran yang hanya dipicu oleh masalah sepele. Beritanya pun menghiasi surat kabar seolah-olah sudah punya kolom tersendiri atau menjadi kegiatan rutin. Padahal tidak ada untungnya dengan memperturutkan emosi dengan cara seperti itu. Dalihnya bermacam-macam pula. Ada yang mengaku di ejek siswa SMK lain, dikeroyok, merebut pacar orang dan lain sebagainya. Ketika salah satu pihak telah tersulut emosinya maka semua turun ke jalan sambil membawa batu dan senjata tajam layaknya sekumpulan lebah yang telah siap menyerang mangsanya. Perang dimulai. Korban pun berjatuhan dan dilarikan ke rumah sakit. Ada yang ditusuk, ada yang dipukuli, ada yang dikeroyok hingga babak belur.  Jalan-jalan menjadi macet. Semua meradang,jelas. Akibatnya para pengguna jalan memaki dan mengutuk tindakan mereka. Pusat keramaian seperti lapangan Imam Bonjol atau tempat lainnya seperti jalan Khatib Sulaiman menjadi tempat untuk beradu jotos. Tak pelak, orang lain pun khawatir terkena imbasnya. Jika tidak hati-hati bisa bakapeh pula kita dibuatnya jika kebetulan sedang berada di lokasi kejadian.

Kalau sudah seperti ini mau jadi apa siswa-siswa tersebut kelak? Bukankah tujuan pendidikan itu untuk menghasilkan peserta didik yang ahli di bidangnya dan berakhlak mulia? Miris memang. Pihak yang berwajib sebetulnya sudah sering melakukan pembinaan kepada siswa SMK yang sering tawuran. Mereka dibawa ke kantor dan diberikan peringatan agar tidak mengulanginya. Orang tua mereka juga dipanggil. Tapi, dianggap angin lalu saja. Besoknya diulangi lagi.  Yang ikut tawuran itu ke itu juga pelakunya.  Kalau bukan SMK A, SMK B atau SMK C. Jika kita telusuri lebih lanjut, ada beberapa sebab mengapa tawuran seperti ini masih membudaya di kalangan siswa SMK.

Pertama, kebiasaan turun temurun. Imej bahwa SMK adalah sekolahnya para siswa yang nakal dan liar telah terbentuk sebelumnya. Sama halnya dengan kekerasan yang berlangsung di IPDN/STPDN. Sudah berurat berakar. Kakak kelasnya memberikan contoh yang buruk kepada adik-adiknya yakni tawuran dengan siswa SMK lainnya. Otomatis adik-adiknya yang baru masuk SMK juga akan melakukan hal yang serupa. Mereka juga diajak untuk ikutan baku hantam. Hasilnya siswa SMK identik dengan siswa-siswa yang hobinya berkelahi, hura-hura, punya geng, merokok, ngebut di jalan raya dan lain sebagainya. Padahal tidak semuanya yang seperti itu. Namun, yangt terlihat oleh masyarakat kita adalah ulah mereka yang tawuran. Otomatis pandangan masyarakat menjadi negatif

Mereka juga dianggap suka membolos.Kemudian, perbedaan yang sangat mencolok antara jumlah siswa laki-laki dan perempuan telah menimbulkan persepsi bahwa SMK adalah sekolahnya laki-laki. Berbeda dengan SMA(Sekolah Menengah Atas)yang jumlah siswa laki-laki dengan siswa perempuannya sebanding bahkan lebih banyak siswa perempuan. Di SMK bisa dibilang 90% persen lebih adalah laki-laki. Karena didominasi oleh laki-laki sehingga muncul ego tersendiri.

Kedua, lemahnya pengawasan sekolah. Pengawasan yang lemah di sekolah ditenggarai menjadi faktor mengapa siswa berani melakukan tawuran. Hal ini harusnya menjadi evaluasi agar sekolah menegakkan peraturan setegas mungkin. Jika perlu mereka yang sering melakukan tawuran atau melakukan provokasi dihukum sesuai perbuatannya. Kalau perlu dikeluarkan dari sekolah. Jika tidak demikian, mereka tidak akan pernah berubah. Setelah dihukum mereka kembali lagi tawuran. Sementara nama baik SMK tercoreng gara-gara perbuatan tersebut. Hukuman itu harus bersifat jera sehingga siswa-siswa tidak berani mengulanginya. Sekolah punya kekuatan untuk mengantisipasi terjadinya tawuran jika kepala sekolah dan gurunya kompak. Yang masih membandel dikeluarkan saja

Ketiga, pengaruh lingkungan. Lingkungan yang tidak kondusif menyebabkan mudahnya siswa-siswa kita terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang tercela. Belum lagi pengaruh televisi yang menayangkan film-film berbau kekerasan. Siswa-siswa SMK yang  bolos dari sekolahnya biasanya berkeliaran di jalanan, pasar atau pergi ke SMA untuk menggoda para siswinya.  Penampilan mereka tidak ada bedanya dengan preman. Ada yang pakai anting-anting, gelang dan memakai cat rambut.  Wajah mereka juga disangar-sangarkan. Bedanya mereka pakai seragam sekolah. Seragam tersebut dicoret-coret dengan gambar dan tulisan-tulisan tertentu. Jika mereka mengendarai sepeda motor, maka bunyi knalpotnya memekakkan gendang telinga karena memang disengaja untuk mencari perhatian sebanyak mungkin orang. Mereka juga ngebut dijalan raya dan sering dikejar oleh Polantas. Masyarakat yang melihatnya pun kesal dan hanya bisa mengurut dada karena prihatin. Anehnya siswa-siswa tersebut bangga dengan perbuatannya.

Keempat, siswa tidak dididik orang tuanya dengan baik di  rumah. Terjadinya tawuran juga disebabkan oleh faktor ini. Orang tua harusnya saling bersinergi dengan guru. Di rumah hendaknya orang tua menanamkan nilai-nilai keislaman dan akhlak mulia kepada anak-anaknya. Sayangnya, masih banyak orang tua yang tidak peduli dengan anaknya. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mau tahu dengan kondisi anaknya. Ketika si anak ikut tawuran dan orang tua dipanggil oleh  pihak yang berwajib, barulah tapakiak. Anaknya pula yang disalahkan karena terlibat dalam tawuran. Padahal ada kontribusi orang tua yang menyebabkan anaknya terjerumus. Jika di rumah seorang anak selalu mendapatkan hal-hal yang positif dari orang tuanya misalnya si anak selalu diingatkan untuk melaksanakan sholat lima waktu, ditegur bila bersalah, dinasehati dengan cara yang baik maka inilah yang membentengi dirinya kelak.

Kelima, faktor psikologi. Faktor ini tak bisa dilupakan begitu saja. Masa remaja adalah masa mencari identitas. Usia remaja biasanya ditandai dengan labilnya emosi, ingin mencari suatu hal yang baru, dan cendrung memberontak jika ditekan. Namun, bukan berarti hal ini menjadi pembenaran untuk melakukan tawuran. Sebenarnya hal ini bisa dikendalikan dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan positif seperti kursus, taklim remaja(ROHIS), olahraga dan lain sebagainya. Intinya masa remaja harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan cara mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat atau bisa membangkitkan potensi yang dimiliki. Jika hal ini sudah dilakukan, artinya siswa sudah melindungi dirinya sendiri dari hal-hal yang merugikan.

Permasalahan remaja memang sangat komplek. Potret siswa SMK diatas hanyalah sebagian kecil dari kenakalan remaja yang menguap ke permukaan. Masih banyak perbuatan remaja lainnya yang meresahkan kita semua seperti  pergaulan bebas, narkoba, judi dan sebagainya yang mestinya mendapat perhatian lebih dari semua pihak. Kita mestinya turut berusaha melakukan usaha-usaha agar menjauhkan siswa-siswa kita dari hal-hal diatas. Tugas tersebut tidak mudah. Setiap pihak harus saling bekerjasama. Orang tua harus mendidik anaknya dengan baik di rumah. Guru harus memperlihatkan perannya di sekolah sebagai seorang tenaga pendidik yang sesungguhnya. Polisi sebagai pengayom masyarakat harus cepat bertindak untuk mencegah terjadinya tawuran jika sudah ada indikasinya. Para ulama, ustadz dan da’i juga dimintakan partisipasinya untuk memberikan penyuluhan atau ceramah-ceramah ke SMK untuk menambah pemahaman agama para siswa. Jika kita semua sudah memainkan peran dengan baik, maka tawuran bisa diminimalisir bahkan dicegah.

Intinya solusi dari permasalahan diatas adalah keteladanan. Jika setiap orang sudah memberikan keteladanan kepada orang lain baik dalam ucapan,sikap ataupun tindakan maka akan tercipta lingkungan yang nyaman, aman dan jauh dari kekerasan. Kita berharap dengan digulirkannya pendidikan berkarakter oleh gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mampu meningkatkan mutu pendidikan dari waktu ke waktu. Bukan merosot dari tahun ke tahun. Hasil UN tahun lalu menjadi bukti bahwa masih banyak yang harus dibenahi dari pendidikan kita secara umum. Kita harus mengembalikan kejayaan ranah Minang tercinta ini seperti zaman dahulu. Dan sesungguhnya ini adalah tugas dan tanggung jawab kita semua. Birokrasi juga harus diperbaiki agar tujuan tersebut tercapai dengan baik. Tidak ada kata terlambat jika kita bertekad ingin merubahnya. Kalau bukan kita, siapa lagi?SMK sebagai salah satu institusi pendidikan punya peluang  yang besar untuk itu.

Penulis adalah aktivis Forum Lingkar Pena Sumatera Barat. Telah menerbitkan 1 buah buku solo, dan beberapa buah buku antologi bersama. Tulisannya juga sudah dimuat di media lokal Sumbar dan majalah Islam Sabili. Sedang menyelesaikan buku solo ke-2

komentar saya (ILHAM MARNOLA)
1. ini adalah catatan pinggir saja tapi tetap penting untuk perenungan stake holder kejuruan di Indonesia.

2. “mas memandang SMK itu parsial… hanya melihat dari perspektif media yang lebih menghakimi…”

3. Kiat esemka adalah satu dari sekian banyak karya siswa SMK.. cuma tidak terpublish dengan baik, tertutupi oleh tawuran yang lebih menarik dimuat dari pada karya-karya SMK…saya tidak menafikan masalah yang ada di atas, memang itu salah satunya. dan ada kompleksitas dalam masalah SMK ini.
SMK itu ada banyak jenis nya, tulisan diatas lebih cendrung pada SMK Tekrek (dulu STM)… dan angka tawuran itu kecil mas, dibandingkan siswa SMK, di bandingkan dengan mereka yang berprestasi.
saya tanya berapa mereka yang tawuran ? berapa siswa SMK di Kota Padang? apakah pelaku tawuran SMK saja ?

4. salah satu peran media adalah penciptaan iklim yang “baik” untuk menyemangati anak2 SMK, bahwa SMK tidak hanya terkenal dngan tawuran, bahwa SMK punya produk2 lain selain KIAT SMK, bahwa siswa SMK juga bisa berprstasi dalam hal belajar, dst……
sehingga anak2 SMK tidak terhakimi oleh meantrem itu, sehingga mereka bisa belajar membandingkan diri mereka dengan teman-teman mereka yang berprestasi.. selain berita tawuran, media juga harus meliput karya2 anak SMK.

5. stop “BAD NEWS IS GOOD NEWS”…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: